SEJARAH SENI MUSIK KERONCONG INDONESIA VERSI KOMPONIS KUSBINI (1C)

PERINCIAN PARTITUR KERONCONG

  1. Suling (flute) dan biola (viol) silih berganti membawakan melodi pokok beserta variasi-variasi / improvisasi.
  2. Cello bermain kendangan secara pizzicato, selaras akor-akor iringan lagunya.
  3. Bas berfungsi sebagai gong, pizzicato, selaras akor-akornya.
  4. Gitar, bermain pizzicato, membawakan iringan secara improvisatoris selaras susunan akor-akornya.
  5. Keroncong (ukulele) dan banyo (cak), bagian rythm, bergabung dengan bas.
  6. Vokal (penyanyi) membawakan lagu dan syairnya menurut ciri-cirinya keroncong yang khas.

JENIS LANGGAM KERONCONG – INDONESIA

Selain dari jenis keroncong asli, ada pula jenis langgam keroncong asli, sifat styl pembawaan lagu langgam keroncong, mengesankan keroncong, namun ada perbedaannya, menurut cirinya masing-masing.

Pada tahun 1924, Kusbini mengenal sebuah lagu langgam keroncong berjudul : “Bintang Surabaya” dicatat dalam tahun 1935. Pengarangnya tidak kenal, bertanda N.N., bersyair asmara, berbentuk 32 ruas lagu (bar), berbentuk “lied” dalam tempo andante dalam mayor, berirama ¼, pembawaannya tidak banyak bercengkok, namun dengan gregel dan embat, liris, romantik, con expressione, digubah oleh Kusbini tahun 1935.

Dengan adanya lagu langgam keroncong tersebut, timbul aneka jenis langgam keroncong antara lain “Bengawan Solo”, ciptaan Gesang tahun 1940; “Rayuan Pulau Kelapa”, ciptaan Ismail Marzuki tahun 1944 dan langgam keroncong dari pelbagai daerah Indonesia, antara lain daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan lain-lain, masing-masing memiliki sifat styl pembawaannya, menurut asalnya. Lagu langgam Bintang Surabaya (N.N.) notasinya ditulis kembali oleh Kusbini beserta gubahan syairnya sebagai berikut :

Lagu Bintang Surabaya (N.N.)

4/4 : Andante Con Expressione

Notasi : Musik dan syair, Gubahan Kusbini 1935

Layang layang terbayang masa yang telah lalu

Mengenangkan masa mudaku di Surabaya

Bintang-bintang bertaburan di langit yang terang

Hanya satu bintang harapan yang kurindukan

Duhai bintangku bintang harapanku

Sinarkanlah cahayamu dalam jiwaku

Duhai bintangku bintang harapanku

Sinarkanlah cahayamu dalam jiwaku

Ada pula lagu ”Pulau Pandan” yang dicatat Kusbini tahun 1935, menurut gubahan S.M. Mochtar, berasal dari padang Sumatera, seorang musikus (pemain piano) dalam orkes studio NIROM (Nederlandsah Indische Radio Omroep Maatschappy) di Surabaya, pimpinan Kusbini.

Ia menerangkan, bahwa lagu ”Pulau Pandan” tersebut, berasal dari Medan, Sumatera Utara.

PULAU PANDAN (N.N.)

4/4 : Andante Con Dalarosa

Notasi : Kusbini 1935

Pulau Pandan jauh la ditengah

Dibalik pulau Angsa berdua

Dibalik pulau Angsa berdua

Hancurlah badan dikandung tanah

Budi yang baik dikenang jua

Budi yang baik dikenang jua

Yo la yo le, yo la yo le

Perginya pagi, pulangnya sore

Lagu tersebut berbentuk 32 ruas lagu (bar), dalam minor, berirama 4/4, bertempo andante ; bersifat duka (condolorosa); di Sumatera terkenal, lagu nasib. Banyak digunakan oleh komidi Stambul yang berkeliling di daerah Indonesia tahun1900, guna mengiringi adegan-adegan cinta yang sedih. Cengkok, gregel dan embatnya mengesankan style pembawaan lagu melayu, mengesankan pembawaan adzan, ada persamaannya dengan lagu-lagu keroncong dalam minor maupun mayor. Bagian refreinnya ada persamaannya dengan lagu prounga-portugis. Apakah lagu “Pulau Pandan” terpengaruh oleh lagu prounga-portugis atau sebaliknya?

JENIS LAGU STAMBUL II

Tahun 1924 Kusbini mengenal lagu stambul II di Surabaya, dari seorang pemain gitar dan penyanyi berusia 75 tahun, bermain gitar sambil menyanyikan lagu tersebut secara improvisatoris, sesuka hati (ad libitum), bersyair secara improvisatoris bersifat asmara.

Lagu tersebut dicatat oleh Kusbini tahun 1935 ternyata merupakan kerangka jenis lagu stambul II, berbentuk 10 ruas lagu (bar), berirama 4/4 dalam mayor, bertempo andante bersifat duka/rindu pakai introduksi dengan peralihan akor I ke akor IV, merupakan salah sebuah cirinya yang khas. Ada juga lagu stambul II dalam minor.

Lagu tersebut berasal dari komedi stambul mulai tahun 1900, berkeliling di pelbagai daerah di Indonesia dan adalah pengaruh opera atau tonil barat, banyak membawakan lagu stambul II guna mengiringi adegan-adegan ceritanya yang sedih, maka dari itu lagu tersebut semula disebut lagu komedi stambul, kemudian disingkat lagu stambul, yang popular dan hidup hingga sekarang adalah stambul II.

Dalam tahun 1924, lapangan olah musik kroncong terbatas, antara lain dilorong-lorong belakang kampung, dalam perayaan khitanan, perkawinan. Para pelajar tidak banyak berolah musik kroncong.

Dalam tahun 1935, lapangan berolah musik kroncong agak luas, di pasar malam (JAAR MARKT) di Surabaya dan di pasar malam Gambir di Jakarta, yang menyelenggarakan lomba kroncong (Kroncong Concoars) dan di rekaman-rekaman piring hitam.

STAMBUL II ASLI (N.N) – “MASUK KAMPUNG KELUAR KAMPUNG”

Perkembangan kerangka lagu stambul II di catat oleh Kusbini tahun 1935, berjudul “masuk kampung keluar kampung” berciri khas : berbentuk 16 ruas lagu (bar) berirama 4/4 dalam mayor, ada juga dalam minor, bersifat duka mendayu-dayu, liris,romantis, rindu asmara, con esperessione (penuh perasaan), khusus untuk penyanyi tunggal, bersyair secara improvisatoris, pembawaannya penuh dengan cengkok, gregel dan embat, halus, lebih sukar dari pembawaan jenis lagu kroncong.

Penyanyi-penyanyi tahun 1935, yang menguasai pembawaan lagu tersebut antara lain ; Netty, Sulami, Any Landow, Surip, S.Abdullah, Miss Moer.

Jenis lagu tersebut hingga sekarang masih hidup berkembang, parallel (sejajar) dengan kehidupan dan perkembangan jenis lagu kroncong, kedua-duanya tidak terpisahkan, merupakan pasangan yang abadi.

PERBEDAAN JENIS LAGU STAMBUL II DENGAN JENIS LAGU KERONCONG ASLI.

Sifat style pembawaan lagu stambul II berbeda dengan jenis lagu keroncong asli.

Secara sifat jenis lagu stambul II, lagu tersebut harus dibawakan dalam tempo andante, terutama irama cello kendangan tidak boleh rangkap, juga alat-alat musik lainnya tidak boleh berimprovisasi/variasi lincah gembira, seluruhnya harus mengungkapkan sifat rindu, sedih, mengharukan, penyanyi harus bersifat halus, lembut, luwes, estetis, dinamis, serius. Menurut pengalaman Kusbini, membawakan lagu stambul II adalah yang paling sukar, harus menguasai suara, pembawaan, tehnik, ditambah pengalaman secukupnya.

Tidak berlebih-lebihan kiranya, jika Kusbini mengatakan bahwa lagu stambul II itu mengungkap kepribadian wanita, halus, lembut, ayu, luwes.

Jenis lagu keroncong mengungkap kepribadian pria, bersifat jantan, gagah, perkasa, pembawaannya dalam irama rangkap, dengan improvisasi/variasi yang riang, gembira dan lincah.

JENIS LAGU “EXTRA”

Lain dari jenis lagu keroncong, langgam keroncong dan stambul II, ada pula jenis lagu dalam wilayah keroncong, yang disebut lagu “EXTRA” (tambahan), sebutan lagu extra dari komidi stambul yang mempergunakan lagu-lagu tersebut guna mengisi selang waktu, selingan adegan-adegan cerita yang di bawakannya.

Sifat style pembawaannya berciri khas : gembira, berseling humor, terungkap dalam syairnya maupun gaya, grak-gerik penyanyi, seirama lagu.

Kusbini mengungkapkan lagu “Kembang Kacang” yang dikenalnya dalam tahun 1924 di Surabaya. Menurut pendengaran melodinya di susun dalam laras kwasi pelog, komposisi dan sifat style pembawaannya terpengaruh pembawaan gending-gending jawa, penciptanya dari jawa tengah, namanya tidak dikenal, bertanda NN.

Lagu tersebut sangat sukar dicatatnya, karena bersifat improvisasi menurut selera pembawanya masing-masing dengan cengkok, gregel dan embat  mengesankan tembang jawa, iringannya orkes keroncong asli, pakai kendangan, tiap-tiap alat musik dalam orkes tersebut berfungsi meniru pembawaan alat-alat musik gamelan, misalnya : biola berfungsi rebab, gitar-siter; cello-kendang; bas-gong; ukulele/keroncong-ketuk; berseling dengan banyo, berirama lambat berseling cepat.

Pembukaan lagu dibawakan “bawa suara” oleh seorang penyanyi (solo), kemudian bersama-sama dengan “gerongan” (koor), selanjutnya “kembang kacangan”, berarti rangkaian aneka jenis lagu, terdiri pokok kembang kacang, diteruskan berturut-turut dengan beberapa lagu-lagu lainnya yang bersifat riang, gembira, dolanan lucu, dan lain-lain. Kusbini mengenal kembang kacangan itu di Yogyakarta tahun 1958. Karena lagu tersebut, timbul aneka jenis lagu langgam Jawa, antara lain :Tak lelo lelo ledung, yen ing tawang ana lintang, cah ayu, ojo lamis. Dari Jawa Barat – Priangan antara lain : Bajing loncat, Sangkuriang. Sifat style pembawaan lagu tersebut banyak terpengaruh oleh seni daerahnya.

LAGU : JALI-JALI

Lagu jail-jali notasi lagunya ditulis kembali oleh Kusbini tahun 1942, berdasarkan variasi M. Sogi, seorang pemain biola kenamaan dari Jakarta.

Lagu jail-jali berbentuk 32 ruas lagu (bar) dibagi dalam 16 ruas lagu dan 2×8 ruas lagu, dalam tempo allegro. Lagu ”Jail-jali” dari Jakarta, pengarangnya tidak dikenal, bertanda NN.

Melodi lagu tersebut menurut pendengaran disusun dalam laras kwasi slendro, gaya, corak nada, irama dan sifatnya terpengaruh lagu-lagu dari masyarakat Cina di Jakarta dulu, banyak di bawakan dalam “lenong” atau perayaan Cap Go Meh.

Lagu tersebut hingga sekarang masih hidup dan popular, sifat style pembawaannya berciri khas riang, gembira, lucu, melodi dan syair dibawakan secara improvisatoris, melodinya dibawakan khusus dengan biola berselang suling (flute), penuh variasi-variasi, dibawakan oleh penyanyi pria dan wanita, silih berganti saut-sautan,

Penyanyi wanita ; “jali-jali dari Jakarta”

“jadi begini lantaran dia”, dan seterusnya

Penyanyi pria ; “Nona manis jangan kecewa”

“Saya tanggung jawab semuanya”, dan seterusnya.

Lagu tersebut di iringi dengan orkes keroncong asli pakai kendangan, berirama rangkap. Lagu-lagu extra lainnya, yang di catat Kusbini tahun 1924 antara lain :

-          Kecik-kecik, bersyair dalam bahasa jawa

-          Es lilin

-          Kopi susu

Lagu-lagu tersebut banyak di gunakan oleh para dalang wayang kulit dalam adegan ”goro-goro”dan oleh komidi-komidi stambul.

About gemakeroncong

News about Keroncong Music
This entry was posted in Berita Utama. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s